Fakta Perjuangan Seorang Guru Honorer Indonesia

Diposting pada

Ilmu Pengetahuan ( Event Zero Indonesia ) Ketika anda berbicara atau mendengar kata guru. Apakah yang ada di benak anda tentang profesi maupun pelaku tersebut? Tak banyak dari lapisan masyarakat maupun anak didik dari guru-guru sekarang yang sudah tergerus rasa simpatik dan hormatnya kepada gurunya. Baik ketika anak tersebut menjadi orang yang penting dan berkarir cemerlang. 

Sosok guru kadang kala sering dilupakan dan diabaikan keberadaannya. Hal tersebut bisa anda ketahui kepada orang-orang dahulu yang tidak membiarkan anaknya untuk menjadi guru dan sulit dan susahnya menjadi guru. Bagaimana tidak, untuk menjadi guru sungguh sangat banyak sekali yang harus ditegar-tegarkan dan dikuat-kuatkan, apapun itu, baik hati, fikiran maupun fisik.

Sebab diketahui dari dahulu hingga sekarang, kesejahteraan untuk seorang guru itu belumlah tercapai. Dan banyak sekali tekanan-tekanan serta tuntutan-tuntutan yang semakin hari semakin mempersulit kinerja seorang guru padahal layakkah penghasilan guru honorer yang rata-rata bergelar sarjana mendapatkan upah yang lebih rendah hampir 5x atau bahkan 10x lipat dari gaji buruh saat ini. Bayangkan kerja kerasnya guru yang memiliki tangan dan satu otak dan satu hati berusaha mengarahkan dan membimbing beribu-ribu siswa/siswa yang jelas-jelas memiliki berbagai macam karakter dan watak semasa hidupnya untuk menjadikan anak yang berakhlak, cerdas dan berprestasi serta berkarakter.

Hal yang membuat saya terkejut dan perlu jadi bahan perhatian Negara Indonesia ini adalah cara penggajian guru honorer, pada umumnya di sekolah swasta, bayangkan, guru gajian tiap bulan, kerjanya di tiap minggu itu kita misalkan saja ada sekitar 24 jam selama seminggu. tentu kalau kali-kalinya 24 jam tersebut akan dikali 4 karena 1 bulan terdiri atas 4 minggu lalu dikalikan dengan berapa perjanjiannya di awal harga perjamnya lalu di dapat hasil perbulannya jadi di dapatilah gaji perbulannya. 

Fakta Perjuangan Seorang Guru Honorer Indonesia
Gambar: Ilustrasi
Tapi apa, bukanlah begitu cara kali-kalinya di Indonesia ini, melainkan berapa banyak jam guru tersebut dalam satu minggu yang kita misalkan 24 jam. Jadi 24 jam/minggu nya itu langsung dikalikan dengan harga perjamnya di sekolah/yayasan tersebut. Bisa anda kalikan saja bila harga perjamnya 15 atau 18 ribu? berapa gaji perbulan yang diterima guru tersebut? (24 jam x 15 ribu = kira2 360 ribu lah gaji guru perbulannya), jadi berapa lagi gaji yang akan diterima kalau seorang guru memiliki jam mengajarnya kurang dari 24 jam? Berapa lagi gajinya.
Mungkin anda tidak percaya ada gaji guru perjamnya itu dihargai dari 15 ribu hingga 18 ribu di pinggiran lintas sumatera. Jadi saya jawab saja disini, bahwa fakta itu benar. Harga perjam yang diterima seorang Sarjana Pendidikan segitu. Bagaiman lagi yang dipelosok-pelosok bahkan ada yang tidak bergaji. Jadi bagaimana seorang guru enghidupi dirinya maupun keluarganya? Dan bagaimanakah kalau guru tersebut seorang laki-laki, cukupkah untuk hidupnya dan keluarganya? Itulah kekuatan luar biasa seorang guru, yang selalu dikuatkan dan dicukupkan rezekinya hingga berkeluarga. Kalau kata saya, rezeki melimpahku atau gaji pokokku itu bukanlah dari hasil menjadi guru melainkan rezeki gaji pokok yang melimpah tiba-tiba dari Tuhan, dan itu bukan berupa pahala atau rezeki yang tampak tapi nyata berupa materi (uang) dan kesehatan yang hingga kini kurasakan.

Sakitnya itu ketika gaji yang sedikit ini hingga terlambat diterima, lumayan bila terlambat sebulan, ini bahkan mau hingga hamper 3 bulan. Bayangkan saja bagaimana sanggupnya seorang guru menjalankan aktivitasnya dengan begitu. Tapi bersyukurlah guru-guru pada umumnya tidak mogok atau demo untuk hal seperti ini melainkan tetap terus maju melangkah mengerjakan kewajibannya walau hingga detik ini belum juga menerima hak yang harus diterimanya. Dan kebanggaanku untuk saat ini di satu tahun mengabdi menjadi guru ketika saya mengendarai sepeda motor bersama ibuku, secara tidak langsung berpapasan dengan muridku yang langsung menyapa dengan keras memanggil Pak kepadaku dihadapan ibuku, disitu salah satu kebanggaan kulihat ketika ibuku terkejut bercampur senang saat muridku menyapaku. Hingga ibuku berkata, “ternyata sudah jadi guru juga anakku”. Kadang ini yang buat aku “galau” jadi guru.

Demikianlah artikel ini dibuat semoga dapat membantu dan bermanfaat bagi anda tentang fakta perjuangan seorang guru honorer Indonesia. Salam GENUS (Generasi Penerus)
]]>